Kisah Jenaka di Pantai Akarena Makassar

Opini | 2023-03-06

© Disediakan oleh Jalurinfo.com Pantai Akrena (foto: prof Kahar Mustari)
JALURINFO.COM, MAKASSAR- Kisah jenaka berbau tipu-tipu pada hari Minggu 5 Maret 2023(pagi), di Pantai Akarena Makassar.

Sudah kurang lebih satu bulan saya melakukan aktifitas sebagai seorang wartawan di atas tempat tidur. Pasalnya, asam urat menurut dokter yang periksa los meter, kemudian saudara kandung asam urat yakni kolestorol naik di atas normal begitu juga sepupunya asam urat yakni tekanan darah dan gula darah ikut berpasitipasi.

Baca juga: Sketsa-sketsa di Usia 78 Tahun

Melatih Kesehatan Melawan Sakit Jantung
Catatan: Syamsu Nur

Baca juga: "Luhut Sudah Tumbang, Jokowi Bakal Segera Tumbang"

Setelah rutin minum obat dari dokter dan herbal, asam urat, kolesterol dan tekanan darah normal, tetapi gula darah naik. Dokter yang periksa sarankan untuk pola makan harus diatur dan usahakan lakukan gerakan tubuh(olahraga) biar sejenak asal keluar keringat.
Sabtu(4/3/2023)sore, saya menelpon Syarir Irfan sahabat seprofesi untuk membantu saya pergi mandi di laut. Apalagi ritual mandi di laut itu, saya tidak lakukan lagi selama kurang lebih tiga tahun terakhir

Baca juga: Sketsa-sketsa

BALAJAR DARI PASAR TANAH ABANG
Catatan: Syamsu Nur

Baca juga: Toleransi Antara Umat Beragama: Tantangan Besar Bagi Negara Menuju 100 Tahun Indonesia Merdeka dalam Merawat Pluralisme dan Kebinekaan

Sesuai janji, jam tujuh pagi Minggu(5/3/2023) Syarir Irfan yang karib disapa Irfan datang menjemput. Sebelum kami berangkat Irfan ingatkan saya agar membawah Id card wartawan

Selama perjalanan menuju tanjung Bunga, saya membayangkan akan bertemu lagi dengan banyak anak-anak yang kadang menangis atau tertawa ditemani orang tua atau kerabatnya di atas ban mobil yang disewa, atau sengaja mereka bawa dari rumah untuk digunakan sebagai pelampung di Tanjung Bayang

Baca juga: MUKP Cara Hambur - Hamburkan Uang

Baca juga: Sketsa-sketsa
CAWE-CAWE POLITIK

Catatan : Syamsu Nur


Bertemu lagi dengan banyak anak remaja yang ber-selfi ria atau remaja-remaja dengan gaya cerita masih kini yang kadang berpasang-pasangan mengingatkan penulis ke beberapa puluh tahun silam kala raga ini masih ting-ting

Hayalan saya terganggu manakala Irfan membelok motornya ke arah kanan menuju ke pantai Akerena. Irfan seakan mengerti pikiran saya, tanpa menoleh Dia mengatakan Akarena lebih bersih dan aman, karena ada tanggul serta ada petugas pantai

Kami berhenti di loket penjualan karcis parkir dan mandi, rupanya akal wartawan pun dijalankan Irfan. Saat petugas bertanya apakah sudah dikonfirmasi, Irfan mengatakan kenapa harus konfirmasi, bukankah selalu kami kadang meliput di sini bila ada event, lagian saya sering mandi disini. Karcis Anugra(Anu gratis) pun diberikan petugas, sebelum kami tinggalkan tempat, Irfan sempat memberi dua eksamplar koran mingguan Jalur Info terbitan terbaru kepada petugas.

Sampai di parkiran kembali, Irfan, promosikan Akarena, seraya menunjuk, lihat sebentar lagi penuh dengan berbagai merek mobil. Saya membatin, walaupun tidak pernah masuk ke sini tetapi saya juga tidak tinggal di gunung Bawakaraeng atau puncak jaya wijayaya yang ada di Papua sana

Perasaan ini, tidak saya sampaikan ke Irfan karena takut acara tarik tangan menuju pinggir laut terganggu. Setelah menyiapkan pakaian mandi kami pun menuju laut, Walaupun penglihatan saya agak terganggu karena katarak tetapi terlihat sepanjang bibir pantai sampah menggunung tetapi Irfan masih mengatakan kemungkinan dibangun tanggul.

Saat saya menginjakan kaki di laut, hanya sampah plastik atau potongin kayu yang diinjak Sontak saya bicara dalam bahasa Makassar,kepada Irfan 'Ngapana kama"(Kenapa seperti ini. red) jawab Irfan, Biring ji, ditanggahya tangkas mi( tidak apa-apa hanya bagian pinggir, kalau agak ke tengah bersih red,)

Walaupun agak kedalam kondisinya nyaris sama tetapi, saya sudah sibuk berenang dan menyelam sehingga lupa dengan soal sampah . Tak terasa berenang bersama Irfan, sekira 29 menit kami didatangi seorang lelaki tinggi bodinya proporsional memperkenalkan nama Prof Kahar Mustari, saudara seibu dengan Mantan Dirjen Kehakiman, DR Aidir Amin Daud. Aidir ini selain Akademisi juga berlatar belakang wartawan.

Setelah kami memperkenalkan diri dan berprofesi wartawan,.Prof Kahar spontan mengatakan cocoklah kalau begitu, soalnya sejak tadi merasa tidak nyaman

Rp10.000

Irfan menimpali, Ada apa prof? Prof Kahar Mustari mengungkapkan kehadiran di pantai bukan karena dalam rangka mandi, tetapi merayakan ulang tahun istri di sebuah restoran di dalam kwasan Akarena ini.

Pihak restoran mengatakan bila masuk hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp5.000, tetapi ketika masuk kawasan, petugas loket memintah tambahan Rp10.000 per-kepala.

"Jelas saya tidak terima karena pihak restoran mengatakan pada kami bahwa hanya membayar parkir, ucap prof.

Setelah berpikir sejenak, saya putuskan biarlah mandi dulu karena acaranya siang. Pun saya bertanya berapa total harga? Petugas loket menyebut total tambahan angka Rp85.000 saya pun bayar, ungkap prof.

Jadi Ini bukan soal persoalan Rp10.000 tiket masuk untuk mandi tetapi ini persoalan, ketidak profesional petugas, kalau tidak ingin dibilang tipu-tipu. Harusnya petugas berterus terang kepada calon pengunjung bahwa kondisi pantai penuh sampah. Jangan diam-diam jual tiket masuk kemudian pengunjung diperhadapkan dengan kondisi seperti ini, tegas Prof Kahar.

Saat prof bercerita dengan nada santai, kami bertiga tetap tersenyum dan bercandaria seraya sekali-kali menyelam ke dasar laut

Lanjut prof Kahar mengatakan, rupanya pagi ini selain saya, ada, "Korban" lain juga yakni sepasang suami istri asal Bali pegawai salah satu bank dan tinggal di Daya kurang lebih 25 Km dari sini. Seraya menunjuk ke darat ada sepasang suami isteri dengan anak-anak lagi duduk-duduk Rupanya mereka lagi meinimbang-nimbang apakah mandi atau tidak dengan kondisi pantai seperti ini Bila mand selain kondisi air laut kotor, juga sudah membayar tiket dan jauh-jauh ke Akerena.

Saya menimpali pembicaraan prof dengan mengatakan saya juga protes kepada saudarah Irfan karena promosinya selangit soal Akarena.

Mendengar ocehan saya, prof Kahar sontak membela Irfan, dengan mengatakan, apa yang disampaikan Irfan memang benar bahwa Akrena bersih dan terawat tetapi mungkin karena kondisi banjir sehingga sampah seperti ini.

Setelah menatap jam tangan, Prof terlihat tetap enerjik ini dan selalu menyisahkan waktu satu jam tiap hari mandi di pelabuhan Potere itu, berujar tak terasa sudah satu jam berendam, kemudian Dia, mengulangi pembicaraan bahwa," ini bukan soal Rp10.000

Tetapi sangat penting untuk petugas jujur menjelaskan kepada setiap calon pembeli tiket untuk mandi bahwa banyak sampah di pantai. Jangan hanya diam-diam jual tiket, tutup Prof Kahar

Setelah prof pamit pulang, saya dengan Irfan lanjut menikmati laut pantai Akarena dan sinar matahari pagi.

Pada saat kami pulang seorang ibu mengaku berasal dari dari derah Flores, mengatakan maaf kenyamanan terganggu karena selama banjir melanda Makassar pantai Akrena sampanya menggunung walaupun petugas tiap hari berusaha membersihkan

BERITA TERKAIT:

BERITA TERKINI:

TERPOPULER HARI INI

KOLEKSI VIDEO POPULER

PT. JALUR INFO NUSANTARA

Jalur Informasi Independen & Terpercaya

Copyright 2020