Sketsa-sketsa
PELAJARAN APA DI BALIK “ANTRIAN MINYAK GORENG”?
Catatan : Syamsu Nur

Opini | 2022-03-17

© Disediakan oleh Jalurinfo.com
JALURINFO.COM, Maros-

Heboh antrian minyak goreng di mana-mana. Dalam sejarah, di negara Indonesia baru pertama kali ada antrian membeli minyak goreng begitu hebat. Boleh di kata hampir merata di berbagai tempat di Indonesia.

Baca juga: Sketsa-sketsa di Usia 78 Tahun

Melatih Kesehatan Melawan Sakit Jantung
Catatan: Syamsu Nur

Baca juga: "Luhut Sudah Tumbang, Jokowi Bakal Segera Tumbang"

Sepintas kesan-apa di balik antrian membeli minyak goreng. Pertama, karena stock di supermarket sudah habis. Kedua, harga di tempat lain sudah melambung tinggi. Harga yang ditetapkan pemerintah 14.000 rph perlitet sedang harga dipasarkan sudah mencapai 20.000 rph perliter bahkan ada yang lebih.
Tapi sebenarnya pertanyaan yang timbul, apa kejadian di balik itu. Kalau ditelusuri, ada peningkatan ekspor bahan baku minyak goreng, namanya Falm oil atau CPO. Bahwa pabrik Falm oil tingkat dunia meningkat permintaannya. Falm oil digunakan untuk industri kosmetik, pakan ternak, pabrik kimia dan minyak diesel. Pertamina juga membutuhkan Falm oil untuk minyak industri. Maka naiklah harga bahan baku minyak goreng.

Baca juga: Sketsa-sketsa

BALAJAR DARI PASAR TANAH ABANG
Catatan: Syamsu Nur

Baca juga: Toleransi Antara Umat Beragama: Tantangan Besar Bagi Negara Menuju 100 Tahun Indonesia Merdeka dalam Merawat Pluralisme dan Kebinekaan

Di sini petani kelapa sawit “naik daun.”Padahal pernah petani kelapa sawit mengeluh dengan harganya yang rendah. Kini para petani lebih senang menjual ke kebutuhan eksport, karena harga yang lebih tinggi. Indonesia sebenarnya diuntungkan dengan kondisi ini, karena Indonesia masuk penghasil Kelapa sawit yang terbesar di dunia. Maka kalau Indonesia kekurangan minyak goreng menjadi tanda tanya bahkan menjadi bahan guncingan di mana-mana. Ibarat pepatah” ayam kelaparan di lumbung padi.”

Menurut catatan ada kl 400 an pabrik minyak goreng di Indonesia. Tapi banyak yang tidak berkembang bahkan sebagian tutup karena tidak mampu bersaing dengan pabrik besar yang dimiliki para konglomerat. Ada 5 pabrik besar minyak goreng yang menguasai pasar di Indonesia. Mereka memiliki berbagai merek minyak goreng. Tapi Pemiliknya sama. Ada beberapa persyaratan yang membuat pabrik kecil tidak mampu bersaing. Yaitu bahwa untuk mendapat izin pabrik harus memiliki kebun kelapa sawit minimal 20 % dari produksinya. Ini ketentuan yang berlaku sekarang.

Baca juga: MUKP Cara Hambur - Hamburkan Uang

Baca juga: Sketsa-sketsa
CAWE-CAWE POLITIK

Catatan : Syamsu Nur


Di antara 5 besar itu, tercatat yang terbesar adalah Perusahaan Wilmar International Ltd yang tercatat di pasar saham Singapura, pemiliknya bernama Martua Sitorus. Dia bahkan disebut raja minyak goreng. Perusahaan ini memiliki 10.000 Ha kebun kelapa sawit di Sumatera Utara. Tapi sebuah majalah mencatat perusahaan Wilmar ini sudah memiliki ratusan ribu Ha kebun sawit di Sumatera dan Kalimantan. Wilmar memiliki Pabrik minyak merek Fortune dan Sania. Kekayaan Martua Sitorus mencapai 28,7 Trilyun rupiah atau sekitar 1,9 Milyar dolar US.

Kondisi pabrik minyak goreng sekarang, berbeda di tahun 1980, dimana pabrik minyak goreng ada dimana-mana sehingga tidak pernah berada dalam kondisi kekurangan stock. Harga stabil. Berbeda dengan sekarang minyak goreng dikuasai hanya 5 pengusaha besar. Mereka adalah orang terkaya di Indonesia bahkan masuk papan atas di tingkat dunia.

Apa yang dilakukan pemerintah atau departemen perdagangan, dalam menanggulangi kekurangan minyak goreng di pasaran. Langkah pertama dengan mengurangi jatah eksport minyak goreng sampai 20 persen untuk konsumsi dalam negeri. Dan terakhir sampai 30 persen. Tapi kenapa minyak goreng masih langka, menurut laporan karena kelambatan distribusi. Sebagian lagi karena adanya pengusaha yang melakukan penimbunan.

Maka pelajaran apa yang bisa di dapat dalam kondisi minyak goreng ini adalah sbb :

Pertama, ada kelambatan kebijakan dan kekakuan dalam mengatur tata niaga minyak goreng. Kenapa hanya konglomerat yang diberi kesempatan menguasai pabrik minyak goreng ini. Dibuka saja kesempatan kepada pengusaha lain maupun pengusaha kecil untuk mendirikan pabrik minyak goreng tanpa harus memiliki kebun kelapa sawit.

Kedua, Pengaturan tata niaga penjualan bahan baku ekspor, sebaiknya dengan menentukan harga yang lebih tinggi. Imbalannya diberikan subsidi kepada pabrik minyak goreng kecil supaya bisa melakukan harga jual yang lebih murah.

Ketiga, dalam kondisi darurat, menteri perdagangan dan jajarannya hendaknya bertindak cepat dan memberi informasi yang cepat apa sebenarnya yang terjadi dan bagaimana pemerintah mengatasinya.

Keempat, praktek penimbunan harus dicegah lebih awal, sehingga tidak ada kesempatan para spekulan mempersulit keadaan.

Kelima, sistem distribusi masih perlu diperbaiki dan lebih dimantapkan. Kondisi saat ini, hendaknya menjadi pelajaran, memperbaiki sistem dan berlatih bertindak cepat mengatasi masalah. Pelayanan kepada masyarakat umum harusnya lebih diutamakan.

Pelajaran tambahan, hendaknya apa yang dikomentari Presiden Rusia perlu juga disimak. Presiden Putin ketika mendengar Indonesia mengomentari Perang Rusia dan Ukraina di PBB. Putin berkomentar balik: ” Indonesia tidak usah banyak ngomong, urus saja minyak goreng”. xxx

BERITA TERKAIT:

BERITA TERKINI:

TERPOPULER HARI INI

KOLEKSI VIDEO POPULER

PT. JALUR INFO NUSANTARA

Jalur Informasi Independen & Terpercaya

Copyright 2020