Jokowi Marah Kementerian Doyan Impor Barang, Rizal Ramli: Ndak Lucu Lagi

Nasional | 2022-03-26

© Disediakan oleh Jalurinfo.com Presiden Jokowi dan Ngabalin (Foto: Istimewa)
JALURINFO.COM, Maros- Presiden Jokowi dibuat jengkel dengan tingkah kementerian dan lembaga yang masih sering memborong barang impor untuk berbagai kebutuhan dinas. Padahal, menurut dia produk lokal tak kalah bagus, dan anggaran yang dikeluarkan pun bakal lebih efektif.

Saking dongkolnya dengan temuan tersebut, Presiden Jokowi sampai menyebut kata bodoh.

Baca juga: Tingkatkan Keamanan dan Pengalaman Pelanggan, Operator Telekomunikasi Indonesia Hadirkan Tiga Layanan API GSMA Open Gateway Initiative

Baca juga: Buktikan Kinerja Positif Pascamerger, Indosat Ooredoo Hutchison Raih Dua Penghargaan di Ajang Asian Management Excellence Awards

Alhasil, kemarahan Presiden Jokowi langsung menuai sorotan banyak pihak. Salah satunya yang turut berkomentar adalah pengamat ekonomi, Rizal Ramli.
Menurutnya, apa yang dilakukan Joko Widodo seperti lelucon yang tidak lucu lagi. Sebab, seharusnya ada sanksi tegas pada para pelaku, bukan sekedar ngedumel.

Baca juga: Evaluasi Triwulan I Kinerja Pj. Bupati Enrekang Dr H.Baba,SE.MM Mulai Dinilai Irjen Kemendagri

Baca juga: Wujudkan Pemilu Damai, Kaops NCS Polri Kunjungi Tiga Tokoh Lintas Agama

“Lelucon yang ndak lucu lagi? Situ Presiden, rumuskan kebijakan, pecat pejabat yang doyan impor - itu baru bener. Bukan hanya ngedumel, pidato kiri-kanan, tapi kenyataan sebaliknya. Kapan sih bisa eling,” tulis Rizal Ramli, seperti dikutip dari Twitter pribadinya pada Jumat, 25 Maret 2022.

Rizal berpendapat, yang dibutuhkan publik saat ini adalah sikap tegas bukan sekedar marah lewat sebuah pidato.

Baca juga: Ini Pesan Ketua UMUM, Wilianto Tanta Kepada Anggota PSMTI Jelang Pileg dan Pilpres

Baca juga: Indosat Ooredoo Hutchison Layani Puncak Lonjakan Trafik Data 8,9% di Momen Tahun Baru 2024


“Bukan hanya marah dalam pidato, karena nyatanya tidak bisa mengubah keadaan.”

Seperti diketahui, Presiden Jokowi sebelumnya geram karena impor di kementerian dan lembaga masih cukup tinggi.

Mantan gubernur DKI Jakarta itu lantas menyentil beberapa instansi pemerintah yang masih menerapkan pola lama tersebut.

Jokowi kesal karena menurutnya, beberapa barang impor yang dibeli tidak begitu penting dan buang-buang anggaran. Terlebih lagi, barang-barang tersebut sebenarnya bisa di beli dari produk lokal yang tak kalah bagus.

“Bodoh sekali jika langkah itu tidak diambil,” katanya.

Jokowi Sebut Kementerian Bodoh Dalam pidato tersebut ia membahas soal pengarahan terkait aksi afirmasi bangga buatan Indonesia.

Jokowi kemudian menyentil beberapa instansi pemerintahan terkait impor barang yang menurutnya masih bisa di produksi dari dalam negeri.

Salah satunya Menteri Kesehatan yang menjadi soroton tegas Jokowi, hal ini terjadi karena beberapa alat kesehatan merupakan hasil impor.

“Alkes-alkes, Menteri Kesehatan, tempat tidur untuk rumah sakit. Produksi saya liat di Jogja ada, Bekasi, Tangerang ada, tapi malah beli impor,” katanya.

Bukan hanya itu, Jokowi juga menyebut salah satu pengadaan barang yang impor adalah seragam dan sepatu TNI-Polri.

“Seragam dan sepatu tentara dan polisi beli dari luar. Kita ini produksi dimana-mana bisa.”

Gaya Presiden Jokowi naik motor (Foto: Istimewa)

Jokowi memperingatkan dengan tegas pengadaan barang dengan cara tersebut harus segera dihentikan.

Dia juga menegaskan akan segera mengumumkan pihak-pihak instansi pemerintahan yang sering melakukan kegiatan impor barang.

Menurut Jokowi baginya data pengadaan tersebut sekarang sudah mudah untuk di lacak dengan detail, bahkan sampai laporan harian.

Joko Widodo kemudian melanjutkan dengan mengkritisi terkait impor produk-produk pertanian sampai peralatan tulis.

“Alsintan, Menteri pertanian, apa traktor traktor kayak gitu, bukan hi tech saja impor,” keluhnya lagi.

Menurut dia, penggunaan barang dalam negeri dengan APBN dan APBD dapat meningkatkan perekenomian dalam negeri.

Jokowi menyampaikan 'Bodoh' apabila para menteri tidak mengerti hal tersebut, apa lagi tidak melakukannya.

Dia melanjutkan bahwa impor barang hanya menguntungkan negara-negara lain, jika ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi, caranya adalah dengan membeli produk-produk dalam negeri.

Menurutnya, jika mulai membeli dan menggunakan produk dalam negeri akan menimbulkan dampak positif salah satunya investasi berdatangan dan membuka lapangan pekerjaan baru.

“Kadang-kadang saya mikir, ini kita ngerti enggak sih? jangan jangan kita nggak kerja detail, sehingga enggan ngerti barang yang dibeli itu barang impor.” ***



BERITA TERKAIT:

BERITA TERKINI:

TERPOPULER HARI INI

KOLEKSI VIDEO POPULER

PT. JALUR INFO NUSANTARA

Jalur Informasi Independen & Terpercaya

Copyright 2020