YLKI Minta BPOM Keluarkan Izin Darurat Vaksin Covid-19 Disertai Hasil Kajian Ilmiah

Nasional | 2021-01-07

© Disediakan oleh Jalurinfo.com
JAKARTA, JALURINFO,- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan Emergency Use Authorization (EUA) atau izin darurat penggunaan vaksin Covid-19 akan dirilis pekan depan, dan membantah pihaknya berada di bawah tekanan mengeluarkan izin tersebut.

Sementara epidemiolog dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendorong hasil kajian ilmiah uji klinis vaksin dipublikasi agar masyarakat "tidak lari" saat akan disuntik vaksin Covid-19.

Pemerintah sendiri menyatakan menyiapkan opsi menunda jadwal vaksinasi jika BPOM belum mengeluarkan izin darurat penggunaan vaksin, seperti yang telah diwacanakan akan dimulai 13 Januari mendatang.

Baca juga: Penundaan Pemilu 2024 Disebut Berpotensi Lahirkan Pemimpin Otoriter

Juru bicara Vaksinasi Covid-19 dari BPOM, Lucia Rizka Andalusia mengatakan hasil kajian vaksin dari Sinovac sudah tahap finalisasi. Izin darurat penggunaan vaksin dikeluarkan sebelum tanggal 14 Januari 2021.

"Mudah-mudahan kita optimistis dalam minggu depan ini akan bisa kita laksanakan itu, pemberian EUA (Emergency Use Authorization), dan vaksinasi bisa dijalankan," kata Lucia kepada BBC News Indonesia, Rabu (06/01).

Sejauh ini BPOM sudah mengantongi data imunogenisitas dan keamanan vaksin. Imunogenisitas atau kemampuan substansi dari vaksin dalam memicu respon imun dari tubuh (antibodi), dikatakan Lucia, "sudah bisa membentuk antibodi di dalam tubuh".

"Dan sudah ada pemeriksaan yang namanya antibodi netralisasi. Antibodi-nya bisa menetralisasi virus yang masuk. Ini sudah ada pemeriksaannya di laboratorium sudah dilakukan dan menunjukkan hasil yang bagus," kata Lucia.

Kemungkinan efek samping - demam, pegal kelelahan
Selain itu, terkait evaluasi keamanan atau efek samping dari vaksin, dia katakan "tidak ada kondisi berbahaya setelah vaksinasi" seperti pingsan atau menyebabkan kelumpuhan.

"Kalau ada serious after event, atau efek samping yang berbahaya mengancam jiwa, sudah pasti kami sudah akan menghentikan atau tidak menyetujuinya," kata Lucia.

Evaluasi terhadap efek samping vaksin produksi perusahaan asal China, Sinovac ini hanya menimbulkan "demam, pegal, kelelahan" yang menjadi efek samping biasa dalam pemberian vaksin.

Selain itu, Lucia juga menekankan vaksin produksi Sinovac hanya bisa digunakan pada rentang usia 18 - 59. "Jadi karena data uji klinik yang sudah kita dapatkan ada 18 -59 tahun, ya kita akan gunakan itu," katanya.

Namun, tidak menutup kemungkinan vaksin nantinya juga diberikan pada masyarakat usia 60 tahun ke atas. "Nanti ada kita menunggu data hasil uji klinik berikutnya yang akan mudah-mudahan segera ada yang usia di atas 60 tahun," tambah Lucia.

Data yang dihimpun dan telah dievaluasi dari uji klinis tahap I, II dan III ini menjadi modal bagi BPOM untuk mengeluarkan izin penggunaan darurat vaksin Covid-19.

Namun, kajian tersebut belum lengkap karena BPOM masih menunggu hasil laboratorium terkait dengan efikasi vaksin atau manfaat bagi individu yang menerima imunisasi.

"Laporan akhir dari penelitian itu adalah efikasi," lanjut Lucia yang optimistis pekan depan laporan terakhir ini bisa dibungkus menjadi izin darurat penggunaan vaksin.




BERITA TERKAIT

Fadli Zon: Di Negeri Paling Kapitalis, PCR dan Antigen Ternyata Semuanya GRATIS
Usai Dipanggil Jokowi, Menaker Jamin Segera Revisi Aturan JHT
Terungkap Penyebab Langkanya Minyak Goreng, Ternyata Ini Biang Keroknya
Bikin Geleng-Geleng Kepala , Ini Aturan Baru Perpanjang dan Bikin SIM
Mulai 1 Maret 2022, BPJS Jadi Syarat Jual Beli Tanah
JHT Cair di Usia 56 Tahun, Angota DPR Minta Evaluasi
Triliunan Tagihan Covid dari Rumah Sakit Tak Dibayar, Ini Alasan Pemerintah
Mahfud MD Sebut Tindakan Polisi di Desa Wadas Sudah Sesuai Prosedur
Hari Pers Nasional, Presiden Dorong Industri Pers Bertransformasi Cepat
Jenderal Dudung Minta Bahar Smith dan Rizieq Tak Usah Macam-macam

TERPOPULER

  1. Rudal Termonuklir Rusia Mengamuk, 50 Jendral Ukraina Jadi Korban

  2. VIDEO Canggih, Misil Anti Pesawat Rusia Berbelok-belok Mengikuti Target dan Dorrr!

  3. VIDEO Bak Kembang Api, Begini Sistem Kerja Roket Ganda Uragan Rusia

  4. VIDEO Negara-negara Arab Deklarasikan Dukungan untuk Rusia

  5. VIDEO Beginilah Nasib Tentara Ukraina yang Ditangkap Rusia

  6. VIDEO Tank Rusia Sembunyi Dibalik Semak, Lalu Hancurkan Tank dan Benteng Ukraina

  7. VIDEO Ukraina Semakin Terancam, Tentara Bayaran Georgia Tiba di Donbas

  8. VIDEO Kondisi Rumah sakit Manakarra Mamuju saat Gempa siang hari ini

  9. VIDEO Detik-detik Peluncuran rudal TOS-1 di posisi dekat Avdiivka oleh Tentara Rusia

  10. Kondisi Polda Sulbar setelah Dilanda Gempa Bermagnitudo: 5.8

RELIGI

VIDEO Pemkab Solo Luncurkan Program Solo Mengaji

Menag Terbitkan Aturan Pengeras Suara, Ini Respons MUI

Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Saleh Ajak Masyarakat Ramaikan Pengajian

Menag Pastikan Tidak Ada Pemberhentian Umrah

Cendekiawan Muslim Sebut Pentingnya Bimbingan Keagamaan Bagi Generasi Muda Hadapi Bahaya Media Sosial

EKONOMI

  1. Tahu-Tempe Langka, Ini Penjelasan Menteri pertanian

  2. Cek Harga Emas dan UBS Hari Ini di Pegadaian, Senin, 14 Februari 2022

  3. Bappenas Heran Tukang Las Rel Kereta Cepat Didatangkan dari China

  4. Penghasil Sawit Terbesar tapi Minyak Goreng Langkah, KPPU Bakal Interogasi Pengusaha Minyak Goreng

  5. Minyak Goreng Langkah, Rizal Ramli Semprot Airlangga Hartarto

  6. Anggota DPR Kaget Anggaran Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bengkak Jadi Rp 113,9 T

  7. Target KUR BRI Enrekang 429 Milyar Dominan Buat Petani Bawang

  8. IMB Tak Lagi Berlaku, Begini Syarat Mengurus Persetujuan Izin Bangunan Gedung

  9. VIDEO: Didukung 537 Personil, Ini Partisipasi Yodya Karya Wilayah Makassar dalam Membangun Negeri

  10. Produk China Tak Tergantikan, Amerika Pun Tak Berdaya Membendungnya

  11. Ini Daftar Komoditas Ekspor Unggulan Indonesia Sawit hingga Batu Bara

  12. Diprediksi Naik 8 Kali Lipat, Begini Nilai Ekonomi Digital Indonesia di Tahun 2030

YLKI Minta BPOM Keluarkan Izin Darurat Vaksin Covid-19 Disertai Hasil Kajian Ilmiah

Nasional | 2021-01-07

© Disediakan oleh Jalurinfo.com
Choose Language!

Kirim berita, video & pengaduan terkait layanan publik di sini

JAKARTA, JALURINFO,- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan Emergency Use Authorization (EUA) atau izin darurat penggunaan vaksin Covid-19 akan dirilis pekan depan, dan membantah pihaknya berada di bawah tekanan mengeluarkan izin tersebut.

Sementara epidemiolog dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendorong hasil kajian ilmiah uji klinis vaksin dipublikasi agar masyarakat "tidak lari" saat akan disuntik vaksin Covid-19.

Pemerintah sendiri menyatakan menyiapkan opsi menunda jadwal vaksinasi jika BPOM belum mengeluarkan izin darurat penggunaan vaksin, seperti yang telah diwacanakan akan dimulai 13 Januari mendatang.

Baca juga: Penundaan Pemilu 2024 Disebut Berpotensi Lahirkan Pemimpin Otoriter

Juru bicara Vaksinasi Covid-19 dari BPOM, Lucia Rizka Andalusia mengatakan hasil kajian vaksin dari Sinovac sudah tahap finalisasi. Izin darurat penggunaan vaksin dikeluarkan sebelum tanggal 14 Januari 2021.

"Mudah-mudahan kita optimistis dalam minggu depan ini akan bisa kita laksanakan itu, pemberian EUA (Emergency Use Authorization), dan vaksinasi bisa dijalankan," kata Lucia kepada BBC News Indonesia, Rabu (06/01).

Sejauh ini BPOM sudah mengantongi data imunogenisitas dan keamanan vaksin. Imunogenisitas atau kemampuan substansi dari vaksin dalam memicu respon imun dari tubuh (antibodi), dikatakan Lucia, "sudah bisa membentuk antibodi di dalam tubuh".

"Dan sudah ada pemeriksaan yang namanya antibodi netralisasi. Antibodi-nya bisa menetralisasi virus yang masuk. Ini sudah ada pemeriksaannya di laboratorium sudah dilakukan dan menunjukkan hasil yang bagus," kata Lucia.

Kemungkinan efek samping - demam, pegal kelelahan
Selain itu, terkait evaluasi keamanan atau efek samping dari vaksin, dia katakan "tidak ada kondisi berbahaya setelah vaksinasi" seperti pingsan atau menyebabkan kelumpuhan.

"Kalau ada serious after event, atau efek samping yang berbahaya mengancam jiwa, sudah pasti kami sudah akan menghentikan atau tidak menyetujuinya," kata Lucia.

Evaluasi terhadap efek samping vaksin produksi perusahaan asal China, Sinovac ini hanya menimbulkan "demam, pegal, kelelahan" yang menjadi efek samping biasa dalam pemberian vaksin.

Selain itu, Lucia juga menekankan vaksin produksi Sinovac hanya bisa digunakan pada rentang usia 18 - 59. "Jadi karena data uji klinik yang sudah kita dapatkan ada 18 -59 tahun, ya kita akan gunakan itu," katanya.

Namun, tidak menutup kemungkinan vaksin nantinya juga diberikan pada masyarakat usia 60 tahun ke atas. "Nanti ada kita menunggu data hasil uji klinik berikutnya yang akan mudah-mudahan segera ada yang usia di atas 60 tahun," tambah Lucia.

Data yang dihimpun dan telah dievaluasi dari uji klinis tahap I, II dan III ini menjadi modal bagi BPOM untuk mengeluarkan izin penggunaan darurat vaksin Covid-19.

Namun, kajian tersebut belum lengkap karena BPOM masih menunggu hasil laboratorium terkait dengan efikasi vaksin atau manfaat bagi individu yang menerima imunisasi.

"Laporan akhir dari penelitian itu adalah efikasi," lanjut Lucia yang optimistis pekan depan laporan terakhir ini bisa dibungkus menjadi izin darurat penggunaan vaksin.

Kirim berita, video & pengaduan terkait layanan publik di sini


Jangan Lewatkan:

TERPOPULER HARI INI

KOLEKSI VIDEO POPULER

PT. JALUR INFO NUSANTARA

Jalur Informasi Independen & Terpercaya

Copyright 2020