Ramai Seruan Boikot, Berapa Nilai Perdagangan Indonesia-Prancis?

Ekonomi | 2020-10-31

© Disediakan oleh Jalurinfo.com YORDANIA - Seorang pembelanja berjalan melewati produk Prancis yang disegel di balik penutup plastik di rak di supermarket di ibu kota Yordania, Amman, selama boikot produk Prancis pada 26 Oktober 2020.
JAKARTA, JALURINFO,- Media sosial sedang diramaikan oleh seruan boikot produk Prancis. Penyebabnya adalah pernyataan kontroversial Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dianggap menghina Islam.

Pemicunya adalah pembunuhan Samuel Paty, seorang guru sejarah berusia 47 pada 16 Oktober 2020 lalu. Hari itu, Paty dibunuh dan kepalanya dipenggal di luar sekolah tempatnya mengajar di Kota Conflans-Sainte-Honorine.

Pelaku pembunuhan bernama Abdoullakh Abouyedovich Anzorov. Pemuda muslim berumur 18 tahun ini merupakan Chechnya. Ia menganggap tindakan Paty yang telah menggunakan karikatur Nabi Muhammad saat mengajar soal kebebasan berekspresi di sekolah sebagai penghinaan terhadap Islam.

Kasus ini mengingatkan publik Prancis atas penembakan massal yang terjadi terhadap jurnalis majalah satir Charlie Hebdo pada Januari 2015. Insiden yang dipicu oleh penerbitan karikatur Nabi Muhammad ini menewaskan 12 orang dan melukai sebelas orang.

Atas insiden tersebut, Macron mengeluarkan pernyataan keras. “Salah satu warga kami dibunuh hari ini karena dia mengajarkan murid-muridnya tentang kebebasan berekspresi," kata Macron, dikutip dari Reuters.

Ia menyebut sang guru dibunuh “karena Islamis menginginkan masa depan kita”. Menurutnya, “Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis saat ini, di seluruh dunia.”

Lebih jauh, Macron juga menyatakan bahwa pemerintah tidak akan melarang pencetakan karikatur Nabi Muhammad. Menurutnya, hal itu merupakan bagian dari kebebasan berekspresi yang dijunjung tinggi di Prancis.

Protes Pemerintah Indonesia

Pernyataan Macron atas pembunuhan Paty itu dianggap memojokkan umat Islam secara keseluruhan. Pemerintah Indonesia pun mengecamnya.

"Pernyataan tersebut telah melukai perasaan lebih dari 2 Milyar orang muslim di seluruh dunia dan telah memecah persatuan antar umat beragama di dunia," demikian pernyataan pemerintah, seperti dikutip dari situs resmi Kementerian Luar Negeri, Jumat (30/10).

Baca juga: Tahu-Tempe Langka, Ini Penjelasan Menteri pertanian

Dijelaskan dalam pernyataan tersebut, hak kebebasan berekspresi seharusnya tidak mencederai kehormatan, kesucian, dan kesakralan nilai dan simbol agama. "Sebagai negara demokrasi ketiga terbesar dan berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia mengajak seluruh negara untuk mendorong persatuan dan toleransi antar umat beragama, terutama di tengah situasi pandemi saat ini.”

Kementerian Luar Negeri juga memanggil Duta Besar Prancis untuk RI Olivier Chambard pada Selasa (27/10) sore. Selain untuk meminta penjelasan, pemerintah juga menyampaikan protes terhadap pernyataan Macron melalui Chambard.

Protes itu tak hanya disampaikan secara resmi. Di media sosial pun muncul seruan untuk boikot produk Prancis.

Lalu, bagaimana sebenarnya hubungan dagang Indonesia-Prancis selama ini?




BERITA TERKAIT

Penghasil Sawit Terbesar tapi Minyak Goreng Langkah, KPPU Bakal Interogasi Pengusaha Minyak Goreng
Minyak Goreng Langkah, Rizal Ramli Semprot Airlangga Hartarto
Anggota DPR Kaget Anggaran Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bengkak Jadi Rp 113,9 T
Target KUR BRI Enrekang 429 Milyar Dominan Buat Petani Bawang
IMB Tak Lagi Berlaku, Begini Syarat Mengurus Persetujuan Izin Bangunan Gedung
VIDEO: Didukung 537 Personil, Ini Partisipasi Yodya Karya Wilayah Makassar dalam Membangun Negeri
Produk China Tak Tergantikan, Amerika Pun Tak Berdaya Membendungnya
Ini Daftar Komoditas Ekspor Unggulan Indonesia Sawit hingga Batu Bara
Diprediksi Naik 8 Kali Lipat, Begini Nilai Ekonomi Digital Indonesia di Tahun 2030
Respon Jubir Erick Thohir Soal Garuda Bakal Diganti Pelita Air

TERPOPULER

  1. Rudal Termonuklir Rusia Mengamuk, 50 Jendral Ukraina Jadi Korban

  2. VIDEO Canggih, Misil Anti Pesawat Rusia Berbelok-belok Mengikuti Target dan Dorrr!

  3. VIDEO Bak Kembang Api, Begini Sistem Kerja Roket Ganda Uragan Rusia

  4. VIDEO Negara-negara Arab Deklarasikan Dukungan untuk Rusia

  5. VIDEO Beginilah Nasib Tentara Ukraina yang Ditangkap Rusia

  6. VIDEO Tank Rusia Sembunyi Dibalik Semak, Lalu Hancurkan Tank dan Benteng Ukraina

  7. VIDEO Ukraina Semakin Terancam, Tentara Bayaran Georgia Tiba di Donbas

  8. VIDEO Kondisi Rumah sakit Manakarra Mamuju saat Gempa siang hari ini

  9. VIDEO Detik-detik Peluncuran rudal TOS-1 di posisi dekat Avdiivka oleh Tentara Rusia

  10. Kondisi Polda Sulbar setelah Dilanda Gempa Bermagnitudo: 5.8

RELIGI

VIDEO Pemkab Solo Luncurkan Program Solo Mengaji

Menag Terbitkan Aturan Pengeras Suara, Ini Respons MUI

Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Saleh Ajak Masyarakat Ramaikan Pengajian

Menag Pastikan Tidak Ada Pemberhentian Umrah

Cendekiawan Muslim Sebut Pentingnya Bimbingan Keagamaan Bagi Generasi Muda Hadapi Bahaya Media Sosial

EKONOMI

  1. Tahu-Tempe Langka, Ini Penjelasan Menteri pertanian

  2. Cek Harga Emas dan UBS Hari Ini di Pegadaian, Senin, 14 Februari 2022

  3. Bappenas Heran Tukang Las Rel Kereta Cepat Didatangkan dari China

  4. Penghasil Sawit Terbesar tapi Minyak Goreng Langkah, KPPU Bakal Interogasi Pengusaha Minyak Goreng

  5. Minyak Goreng Langkah, Rizal Ramli Semprot Airlangga Hartarto

  6. Anggota DPR Kaget Anggaran Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bengkak Jadi Rp 113,9 T

  7. Target KUR BRI Enrekang 429 Milyar Dominan Buat Petani Bawang

  8. IMB Tak Lagi Berlaku, Begini Syarat Mengurus Persetujuan Izin Bangunan Gedung

  9. VIDEO: Didukung 537 Personil, Ini Partisipasi Yodya Karya Wilayah Makassar dalam Membangun Negeri

  10. Produk China Tak Tergantikan, Amerika Pun Tak Berdaya Membendungnya

  11. Ini Daftar Komoditas Ekspor Unggulan Indonesia Sawit hingga Batu Bara

  12. Diprediksi Naik 8 Kali Lipat, Begini Nilai Ekonomi Digital Indonesia di Tahun 2030

Ramai Seruan Boikot, Berapa Nilai Perdagangan Indonesia-Prancis?

Ekonomi | 2020-10-31

© Disediakan oleh Jalurinfo.com YORDANIA - Seorang pembelanja berjalan melewati produk Prancis yang disegel di balik penutup plastik di rak di supermarket di ibu kota Yordania, Amman, selama boikot produk Prancis pada 26 Oktober 2020.
Choose Language!

Kirim berita, video & pengaduan terkait layanan publik di sini

JAKARTA, JALURINFO,- Media sosial sedang diramaikan oleh seruan boikot produk Prancis. Penyebabnya adalah pernyataan kontroversial Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dianggap menghina Islam.

Pemicunya adalah pembunuhan Samuel Paty, seorang guru sejarah berusia 47 pada 16 Oktober 2020 lalu. Hari itu, Paty dibunuh dan kepalanya dipenggal di luar sekolah tempatnya mengajar di Kota Conflans-Sainte-Honorine.

Pelaku pembunuhan bernama Abdoullakh Abouyedovich Anzorov. Pemuda muslim berumur 18 tahun ini merupakan Chechnya. Ia menganggap tindakan Paty yang telah menggunakan karikatur Nabi Muhammad saat mengajar soal kebebasan berekspresi di sekolah sebagai penghinaan terhadap Islam.

Kasus ini mengingatkan publik Prancis atas penembakan massal yang terjadi terhadap jurnalis majalah satir Charlie Hebdo pada Januari 2015. Insiden yang dipicu oleh penerbitan karikatur Nabi Muhammad ini menewaskan 12 orang dan melukai sebelas orang.

Atas insiden tersebut, Macron mengeluarkan pernyataan keras. “Salah satu warga kami dibunuh hari ini karena dia mengajarkan murid-muridnya tentang kebebasan berekspresi," kata Macron, dikutip dari Reuters.

Ia menyebut sang guru dibunuh “karena Islamis menginginkan masa depan kita”. Menurutnya, “Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis saat ini, di seluruh dunia.”

Lebih jauh, Macron juga menyatakan bahwa pemerintah tidak akan melarang pencetakan karikatur Nabi Muhammad. Menurutnya, hal itu merupakan bagian dari kebebasan berekspresi yang dijunjung tinggi di Prancis.

Protes Pemerintah Indonesia

Pernyataan Macron atas pembunuhan Paty itu dianggap memojokkan umat Islam secara keseluruhan. Pemerintah Indonesia pun mengecamnya.

"Pernyataan tersebut telah melukai perasaan lebih dari 2 Milyar orang muslim di seluruh dunia dan telah memecah persatuan antar umat beragama di dunia," demikian pernyataan pemerintah, seperti dikutip dari situs resmi Kementerian Luar Negeri, Jumat (30/10).

Baca juga: Tahu-Tempe Langka, Ini Penjelasan Menteri pertanian

Dijelaskan dalam pernyataan tersebut, hak kebebasan berekspresi seharusnya tidak mencederai kehormatan, kesucian, dan kesakralan nilai dan simbol agama. "Sebagai negara demokrasi ketiga terbesar dan berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia mengajak seluruh negara untuk mendorong persatuan dan toleransi antar umat beragama, terutama di tengah situasi pandemi saat ini.”

Kementerian Luar Negeri juga memanggil Duta Besar Prancis untuk RI Olivier Chambard pada Selasa (27/10) sore. Selain untuk meminta penjelasan, pemerintah juga menyampaikan protes terhadap pernyataan Macron melalui Chambard.

Protes itu tak hanya disampaikan secara resmi. Di media sosial pun muncul seruan untuk boikot produk Prancis.

Lalu, bagaimana sebenarnya hubungan dagang Indonesia-Prancis selama ini?

Kirim berita, video & pengaduan terkait layanan publik di sini


Jangan Lewatkan:

TERPOPULER HARI INI

KOLEKSI VIDEO POPULER

PT. JALUR INFO NUSANTARA

Jalur Informasi Independen & Terpercaya

Copyright 2020