Jalurinfo.com, media siber nasional terverifikasi Dewan Pers dengan No. Reg: 827/DP-Verifikasi/K/XI/2021

Prof Salim Said: Jangan Lupa, Ada Anak PKI Namanya Ribka Tjiptaning, Dia Itu Pengurus PDIP

Nasional | 2020-09-30

© Disediakan oleh Jalurinfo.com Prof Salim Said saat diskusi virtual. Foto tangkapan layar di YouTube/mesya
MAKASSAR, JALURINFO,- Saksi hidup PKI, Prof Salim Said angkat bicara terkait sejarah pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia.

Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pertahanan Indonesia itu menceritakan, kebangkitan PKI di Indonesia bermula dari gagasan Soekarno untuk mengembangkan ideologi Nasakom (nasionalis, Islam, dan komunis).

Gagasan itu muncul pada tahun 1926 setelah pemberontakan PKI di Jakarta dan Banten ditumpas oleh pemerintah Hindia Belanda.

“Bung Karno melihat pemberontakan itu gagal karena tidak ada persatuan, itu komunis saja. Jadi Bung Karno mengajak persatuan nasionalis, Islam dan komunis (Nasakom). Gak ada masalah waktu itu,” ucap Salim Said dalam video yang dibagikan di kanal YouTube Egis Purnama, Selasa (30/9).

Salim menjelaskan pada tahun 1948 atau setelah Indonesia merdeka, terjadi pemberontakan PKI di Madiun yang menelan banyak korban, baik dari kalangan ulama maupun TNI.

Baca juga: Penundaan Pemilu 2024 Disebut Berpotensi Lahirkan Pemimpin Otoriter

“Sejak itu, cara orang Indonesia yang bukan komunis melihat Indonesia itu sebagai ancaman,” ucapnya.

PKI kembali melancarkan upaya kudeta pada tahun 1965 yang dikenal dengan istilah Gestapu atau Gerakan 30 September atau G30S PKI.

“Sejumlah jenderal dibunuh oleh PKI. Keadaan itu memperburuk kemungkinan mengembangkan persatuan berdasarkan Nasakom,” ucapnya.

“Akhirnya Bung Karno tersingkir dan Nasakom tidak dibicarakan lagi, habis sudah sejarahnya,” tambah pria 77 tahun tersebut.




BERITA TERKAIT

Fadli Zon: Di Negeri Paling Kapitalis, PCR dan Antigen Ternyata Semuanya GRATIS
Usai Dipanggil Jokowi, Menaker Jamin Segera Revisi Aturan JHT
Terungkap Penyebab Langkanya Minyak Goreng, Ternyata Ini Biang Keroknya
Bikin Geleng-Geleng Kepala , Ini Aturan Baru Perpanjang dan Bikin SIM
Mulai 1 Maret 2022, BPJS Jadi Syarat Jual Beli Tanah
JHT Cair di Usia 56 Tahun, Angota DPR Minta Evaluasi
Triliunan Tagihan Covid dari Rumah Sakit Tak Dibayar, Ini Alasan Pemerintah
Mahfud MD Sebut Tindakan Polisi di Desa Wadas Sudah Sesuai Prosedur
Hari Pers Nasional, Presiden Dorong Industri Pers Bertransformasi Cepat
Jenderal Dudung Minta Bahar Smith dan Rizieq Tak Usah Macam-macam

TERPOPULER

  1. VIDEO Canggih, Misil Anti Pesawat Rusia Berbelok-belok Mengikuti Target dan Dorrr!

  2. VIDEO Bak Kembang Api, Begini Sistem Kerja Roket Ganda Uragan Rusia

  3. VIDEO Beginilah Nasib Tentara Ukraina yang Ditangkap Rusia

  4. VIDEO Tank Rusia Sembunyi Dibalik Semak, Lalu Hancurkan Tank dan Benteng Ukraina

  5. VIDEO Ukraina Semakin Terancam, Tentara Bayaran Georgia Tiba di Donbas

  6. VIDEO Kondisi Rumah sakit Manakarra Mamuju saat Gempa siang hari ini

  7. VIDEO Detik-detik Peluncuran rudal TOS-1 di posisi dekat Avdiivka oleh Tentara Rusia

  8. VIDEO Pemkab Solo Luncurkan Program Solo Mengaji

  9. Rusia diembargo Beberapa Negara, Apa itu Embargo? Begini Penjelasannya

  10. Menlu Ukraina Sebut Agresi Militer Rusia Hingga Negaranya Menyerah

RELIGI

VIDEO Pemkab Solo Luncurkan Program Solo Mengaji

Menag Terbitkan Aturan Pengeras Suara, Ini Respons MUI

Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Saleh Ajak Masyarakat Ramaikan Pengajian

Menag Pastikan Tidak Ada Pemberhentian Umrah

Cendekiawan Muslim Sebut Pentingnya Bimbingan Keagamaan Bagi Generasi Muda Hadapi Bahaya Media Sosial

EKONOMI

  1. Tahu-Tempe Langka, Ini Penjelasan Menteri pertanian

  2. Cek Harga Emas dan UBS Hari Ini di Pegadaian, Senin, 14 Februari 2022

  3. Bappenas Heran Tukang Las Rel Kereta Cepat Didatangkan dari China

  4. Penghasil Sawit Terbesar tapi Minyak Goreng Langkah, KPPU Bakal Interogasi Pengusaha Minyak Goreng

  5. Minyak Goreng Langkah, Rizal Ramli Semprot Airlangga Hartarto

  6. Anggota DPR Kaget Anggaran Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bengkak Jadi Rp 113,9 T

  7. Target KUR BRI Enrekang 429 Milyar Dominan Buat Petani Bawang

  8. IMB Tak Lagi Berlaku, Begini Syarat Mengurus Persetujuan Izin Bangunan Gedung

  9. VIDEO: Didukung 537 Personil, Ini Partisipasi Yodya Karya Wilayah Makassar dalam Membangun Negeri

  10. Produk China Tak Tergantikan, Amerika Pun Tak Berdaya Membendungnya

  11. Ini Daftar Komoditas Ekspor Unggulan Indonesia Sawit hingga Batu Bara

  12. Diprediksi Naik 8 Kali Lipat, Begini Nilai Ekonomi Digital Indonesia di Tahun 2030

Prof Salim Said: Jangan Lupa, Ada Anak PKI Namanya Ribka Tjiptaning, Dia Itu Pengurus PDIP

Nasional | 2020-09-30

© Disediakan oleh Jalurinfo.com Prof Salim Said saat diskusi virtual. Foto tangkapan layar di YouTube/mesya
Choose Language!

Kirim berita, video & pengaduan terkait layanan publik di sini

MAKASSAR, JALURINFO,- Saksi hidup PKI, Prof Salim Said angkat bicara terkait sejarah pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia.

Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pertahanan Indonesia itu menceritakan, kebangkitan PKI di Indonesia bermula dari gagasan Soekarno untuk mengembangkan ideologi Nasakom (nasionalis, Islam, dan komunis).

Gagasan itu muncul pada tahun 1926 setelah pemberontakan PKI di Jakarta dan Banten ditumpas oleh pemerintah Hindia Belanda.

“Bung Karno melihat pemberontakan itu gagal karena tidak ada persatuan, itu komunis saja. Jadi Bung Karno mengajak persatuan nasionalis, Islam dan komunis (Nasakom). Gak ada masalah waktu itu,” ucap Salim Said dalam video yang dibagikan di kanal YouTube Egis Purnama, Selasa (30/9).

Salim menjelaskan pada tahun 1948 atau setelah Indonesia merdeka, terjadi pemberontakan PKI di Madiun yang menelan banyak korban, baik dari kalangan ulama maupun TNI.

Baca juga: Penundaan Pemilu 2024 Disebut Berpotensi Lahirkan Pemimpin Otoriter

“Sejak itu, cara orang Indonesia yang bukan komunis melihat Indonesia itu sebagai ancaman,” ucapnya.

PKI kembali melancarkan upaya kudeta pada tahun 1965 yang dikenal dengan istilah Gestapu atau Gerakan 30 September atau G30S PKI.

“Sejumlah jenderal dibunuh oleh PKI. Keadaan itu memperburuk kemungkinan mengembangkan persatuan berdasarkan Nasakom,” ucapnya.

“Akhirnya Bung Karno tersingkir dan Nasakom tidak dibicarakan lagi, habis sudah sejarahnya,” tambah pria 77 tahun tersebut.

Kirim berita, video & pengaduan terkait layanan publik di sini


Jangan Lewatkan:

TERPOPULER HARI INI

KOLEKSI VIDEO POPULER

PT. JALUR INFO NUSANTARA

Jalur Informasi Independen & Terpercaya

Copyright 2020