NASA Ingin Beli Batu dan Debu dari Bulan

Teknologi | 2020-09-13

© Disediakan oleh Jalurinfo.com Ilustrasi permukaan bulan
MAKASSAR, JALURINFO,- NASA berencana untuk membeli batu dan debu dari Bulan yang dikumpulkan oleh perusahaan swasta. Rencana ini langkah terbaru NASA untuk mendorong komersialisasi eksplorasi ruang angkasa.

NASA menyatakan siap membayar sampel batu dan debu dari Bulan dengan berat antara 50 hingga 500 gram. NASA mengatakan akan membayar penuh setelah perusahaan swasta memberikan gambar yang membuktikan sampel tersebut siap diambil dan dialihkan ke NASA.

Dalam pernyataan resmi, NASA mengatakan tujuan pemerintah AS adalah membuat kebijakan yang akan mendorong dukungan internasional untuk pemulihan publik dan swasta, serta penggunaan sumber daya di luar angkasa.

NASA mengatakan hal ini akan memacu investasi sektor swasta dalam teknologi ruang angkasa yang akan mendorong upaya sains dan eksplorasi lebih jauh, dibandingkan hanya mengandalkan usaha pemerintah.

"Kami tahu kebijakan yang mendukung mengenai pemulihan dan penggunaan sumber daya luar angkasa penting untuk menciptakan lingkungan investasi yang stabil dan dapat diprediksi untuk inovator dan pengusaha ruang komersial," terang NASA, dikutip dari CNN Business, Minggu (13/9).

Gagasan apakah suatu negara atau swasta dapat memiliki atau menjual sumber daya luar angkasa sesungguhnya masih menjadi bahan perdebatan dalam hukum internasional.

Baca juga: Hubungkan Indonesia-Australia-AS, Indosat Bangun Kabel Bawah Laut 18.000 Km

Perjanjian Luar Angkasa 1969 mengatur soal kepemilikan dan penjualan objek dari luar angkasa. Sedangkan perjanjian Bulan pada 1979 berusaha untuk mengklarifikasi masalah tersebut baru diadopsi oleh 18 negara. Amerika bukan salah satu dari 18 negara tersebut.




BERITA TERKAIT

NASA Jabarkan Perkembangan Stasiun Luar Angkasa Internasional
Begini Cara Tambah Alamat di Google Maps Lewat PC dan HP
Kiamat Sudah Dekat! Elon Musk Bangun Bahtera Nabi Nuh
Kisah Pria Lamongan Rakit Pesawat Sendiri, Belajar dari Alaska
Jokowi Optimistis Indonesia Bisa Jadi Raksasa Digital Setelah Cina-India
3 Minggu Lagi, WhatsApp Tak Bisa Dipakai Lagi di Handphone Ini
Facebook Down, Mark Zuckerberg Rugi Hampir Rp 100 Triliun
Pengguna Signal dan Telegram Melonjak Usai WhatsApp Down
WhatsApp, Instagram, dan Facebook Tumbang, Ini Kata Mark Zuckerberg
Daftar Wilayah yang Diselimuti Sinyal 5G di Indonesia

TERPOPULER

  1. VIDEO Canggih, Misil Anti Pesawat Rusia Berbelok-belok Mengikuti Target dan Dorrr!

  2. VIDEO Bak Kembang Api, Begini Sistem Kerja Roket Ganda Uragan Rusia

  3. VIDEO Negara-negara Arab Deklarasikan Dukungan untuk Rusia

  4. VIDEO Beginilah Nasib Tentara Ukraina yang Ditangkap Rusia

  5. VIDEO Tank Rusia Sembunyi Dibalik Semak, Lalu Hancurkan Tank dan Benteng Ukraina

  6. VIDEO Ukraina Semakin Terancam, Tentara Bayaran Georgia Tiba di Donbas

  7. VIDEO Kondisi Rumah sakit Manakarra Mamuju saat Gempa siang hari ini

  8. VIDEO Detik-detik Peluncuran rudal TOS-1 di posisi dekat Avdiivka oleh Tentara Rusia

  9. Kondisi Polda Sulbar setelah Dilanda Gempa Bermagnitudo: 5.8

  10. VIDEO Pemkab Solo Luncurkan Program Solo Mengaji

RELIGI

VIDEO Pemkab Solo Luncurkan Program Solo Mengaji

Menag Terbitkan Aturan Pengeras Suara, Ini Respons MUI

Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Saleh Ajak Masyarakat Ramaikan Pengajian

Menag Pastikan Tidak Ada Pemberhentian Umrah

Cendekiawan Muslim Sebut Pentingnya Bimbingan Keagamaan Bagi Generasi Muda Hadapi Bahaya Media Sosial

EKONOMI

  1. Tahu-Tempe Langka, Ini Penjelasan Menteri pertanian

  2. Cek Harga Emas dan UBS Hari Ini di Pegadaian, Senin, 14 Februari 2022

  3. Bappenas Heran Tukang Las Rel Kereta Cepat Didatangkan dari China

  4. Penghasil Sawit Terbesar tapi Minyak Goreng Langkah, KPPU Bakal Interogasi Pengusaha Minyak Goreng

  5. Minyak Goreng Langkah, Rizal Ramli Semprot Airlangga Hartarto

  6. Anggota DPR Kaget Anggaran Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bengkak Jadi Rp 113,9 T

  7. Target KUR BRI Enrekang 429 Milyar Dominan Buat Petani Bawang

  8. IMB Tak Lagi Berlaku, Begini Syarat Mengurus Persetujuan Izin Bangunan Gedung

  9. VIDEO: Didukung 537 Personil, Ini Partisipasi Yodya Karya Wilayah Makassar dalam Membangun Negeri

  10. Produk China Tak Tergantikan, Amerika Pun Tak Berdaya Membendungnya

  11. Ini Daftar Komoditas Ekspor Unggulan Indonesia Sawit hingga Batu Bara

  12. Diprediksi Naik 8 Kali Lipat, Begini Nilai Ekonomi Digital Indonesia di Tahun 2030

NASA Ingin Beli Batu dan Debu dari Bulan

Teknologi | 2020-09-13

© Disediakan oleh Jalurinfo.com Ilustrasi permukaan bulan
Choose Language!

Kirim berita, video & pengaduan terkait layanan publik di sini

MAKASSAR, JALURINFO,- NASA berencana untuk membeli batu dan debu dari Bulan yang dikumpulkan oleh perusahaan swasta. Rencana ini langkah terbaru NASA untuk mendorong komersialisasi eksplorasi ruang angkasa.

NASA menyatakan siap membayar sampel batu dan debu dari Bulan dengan berat antara 50 hingga 500 gram. NASA mengatakan akan membayar penuh setelah perusahaan swasta memberikan gambar yang membuktikan sampel tersebut siap diambil dan dialihkan ke NASA.

Dalam pernyataan resmi, NASA mengatakan tujuan pemerintah AS adalah membuat kebijakan yang akan mendorong dukungan internasional untuk pemulihan publik dan swasta, serta penggunaan sumber daya di luar angkasa.

NASA mengatakan hal ini akan memacu investasi sektor swasta dalam teknologi ruang angkasa yang akan mendorong upaya sains dan eksplorasi lebih jauh, dibandingkan hanya mengandalkan usaha pemerintah.

"Kami tahu kebijakan yang mendukung mengenai pemulihan dan penggunaan sumber daya luar angkasa penting untuk menciptakan lingkungan investasi yang stabil dan dapat diprediksi untuk inovator dan pengusaha ruang komersial," terang NASA, dikutip dari CNN Business, Minggu (13/9).

Gagasan apakah suatu negara atau swasta dapat memiliki atau menjual sumber daya luar angkasa sesungguhnya masih menjadi bahan perdebatan dalam hukum internasional.

Baca juga: Hubungkan Indonesia-Australia-AS, Indosat Bangun Kabel Bawah Laut 18.000 Km

Perjanjian Luar Angkasa 1969 mengatur soal kepemilikan dan penjualan objek dari luar angkasa. Sedangkan perjanjian Bulan pada 1979 berusaha untuk mengklarifikasi masalah tersebut baru diadopsi oleh 18 negara. Amerika bukan salah satu dari 18 negara tersebut.

Kirim berita, video & pengaduan terkait layanan publik di sini


Jangan Lewatkan:

TERPOPULER HARI INI

KOLEKSI VIDEO POPULER

PT. JALUR INFO NUSANTARA

Jalur Informasi Independen & Terpercaya

Copyright 2020