Jalurinfo.com, media siber nasional terverifikasi Dewan Pers dengan No. Reg: 827/DP-Verifikasi/K/XI/2021

Jika Amerika dan Australia Halangi Penyatuan Taiwan, China Sebut Peristiwa "Armageddon" Akan Terjadi

Internasional | 2021-11-20

© Disediakan oleh Jalurinfo.com Ilustrasi : Armageddon
JALURINFO,- Hingga saat ini konflik China dan Taiwan bak api dalam sekam.

Konflik dua negara ini bisa menjadi lebih buruk karena melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Australia.

Bahkan menurut China, AS dan Australia dapat menghadapi "Armageddon".

Dilansir dari intisari-online, Armageddon adalah peristiwa besar di akhir zaman, yaitu perang dunia terbesar yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Para pakar China menyatakan, AS dan Australia dapat menghadapi "Armageddon" jika mereka berusaha menghentikan penyatuan kembali China dengan pulau Taiwan.

Bahkan perang itu bisa 10 kali lipat lebih besar daripada perang yang lain.

Baca juga: Rusia diembargo Beberapa Negara, Apa itu Embargo? Begini Penjelasannya

Ada beberapa alasan China bisa berkata seperti itu.

Pertama, dilansir dari express.co.uk pada Sabtu (20/11/2021), sekarang militer China berada pada atau mendekati kemampuan untuk menyerang Taiwan.

Laporan mengkonfirmasi bahwa Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) telah mencapai kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan blokade udara dan laut, serangan siber, dan serangan rudal terhadap Taiwan.

Laporan mereka menemukan kapasitas laut dan udara PLA saat ini dapat meluncurkan kekuatan pendaratan awal sekitar 25.000 tentara.

Jumlah itu bisa membuat pasukan militer konvensional AS tidak bisa menghalangi serangan China kepada Taiwan.

Ini membuktikan bahwa China bersungguh-sungguh ingin menjalankan “Kebijakan Satu China".




BERITA TERKAIT

Indonesia Dukung Resolusi PBB Soal Invasi Rusia ke Ukraina
Update Perang Rusia-Ukraina, Ukraina Laporkan 137 Kematian
Serba Canggih, Ini Aneka Kendaraan Militer Rusia yang Dipakai untuk Perang.
Pasukan Rusia Rebut Pembangkit Nuklir Chernobyl

Internasional

Pasukan Rusia Rebut Pembangkit Nuklir Chernobyl

dibaca 7881 kali
Putin tandatangani dekret yang akui dua
Joe Biden dan Vladimir Putin Diminta Bertemu Lagi

Internasional

Joe Biden dan Vladimir Putin Diminta Bertemu Lagi

dibaca 7437 kali
AS Klaim Rusia akan Serang Ukraina Besok, Presiden Ukraina Seru Warga Kibarkan Bendera dan Putar Lagu Kebangsaan
Eskalasi Ketegangan Makin Meningkat, Ukraina Minta Bertemu Rusia dalam Tenggat 48 Jam
Terkait Ketegangan Rusia dan Ukraina, Putin Sebut Proposal Macron `Realistis`
Rusia Siagakan Rudal S-400 di Belarus, Ukraina Tak Gentar

TERPOPULER

  1. VIDEO Pemkab Solo Luncurkan Program Solo Mengaji

  2. Rusia diembargo Beberapa Negara, Apa itu Embargo? Begini Penjelasannya

  3. Menlu Ukraina Sebut Agresi Militer Rusia Hingga Negaranya Menyerah

  4. Presiden PSG Ngamuk Ancam Bunuh Staf Madrid

  5. Video Pengambilan Sumpah Jabatan Andi Sudirman Sulaiman sebagai Gubernur Sulsel

  6. Kapal Kargo Tenggelam, Angkut Ribuan Mobil Mewah

  7. Indonesia Dukung Resolusi PBB Soal Invasi Rusia ke Ukraina

  8. Penundaan Pemilu 2024 Disebut Berpotensi Lahirkan Pemimpin Otoriter

  9. DPRD Sulsel Desak Istana Segera Lantik Andi Sudirman Sulaiman

  10. Update Perang Rusia-Ukraina, Ukraina Laporkan 137 Kematian

RELIGI

VIDEO Pemkab Solo Luncurkan Program Solo Mengaji

Menag Terbitkan Aturan Pengeras Suara, Ini Respons MUI

Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Saleh Ajak Masyarakat Ramaikan Pengajian

Menag Pastikan Tidak Ada Pemberhentian Umrah

Cendekiawan Muslim Sebut Pentingnya Bimbingan Keagamaan Bagi Generasi Muda Hadapi Bahaya Media Sosial

EKONOMI

  1. Tahu-Tempe Langka, Ini Penjelasan Menteri pertanian

  2. Cek Harga Emas dan UBS Hari Ini di Pegadaian, Senin, 14 Februari 2022

  3. Bappenas Heran Tukang Las Rel Kereta Cepat Didatangkan dari China

  4. Penghasil Sawit Terbesar tapi Minyak Goreng Langkah, KPPU Bakal Interogasi Pengusaha Minyak Goreng

  5. Minyak Goreng Langkah, Rizal Ramli Semprot Airlangga Hartarto

  6. Anggota DPR Kaget Anggaran Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bengkak Jadi Rp 113,9 T

  7. Target KUR BRI Enrekang 429 Milyar Dominan Buat Petani Bawang

  8. IMB Tak Lagi Berlaku, Begini Syarat Mengurus Persetujuan Izin Bangunan Gedung

  9. VIDEO: Didukung 537 Personil, Ini Partisipasi Yodya Karya Wilayah Makassar dalam Membangun Negeri

  10. Produk China Tak Tergantikan, Amerika Pun Tak Berdaya Membendungnya

  11. Ini Daftar Komoditas Ekspor Unggulan Indonesia Sawit hingga Batu Bara

  12. Diprediksi Naik 8 Kali Lipat, Begini Nilai Ekonomi Digital Indonesia di Tahun 2030

Jika Amerika dan Australia Halangi Penyatuan Taiwan, China Sebut Peristiwa "Armageddon" Akan Terjadi

Internasional | 2021-11-20

© Disediakan oleh Jalurinfo.com Ilustrasi : Armageddon
Choose Language!

Kirim berita, video & pengaduan terkait layanan publik di sini

JALURINFO,- Hingga saat ini konflik China dan Taiwan bak api dalam sekam.

Konflik dua negara ini bisa menjadi lebih buruk karena melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Australia.

Bahkan menurut China, AS dan Australia dapat menghadapi "Armageddon".

Dilansir dari intisari-online, Armageddon adalah peristiwa besar di akhir zaman, yaitu perang dunia terbesar yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Para pakar China menyatakan, AS dan Australia dapat menghadapi "Armageddon" jika mereka berusaha menghentikan penyatuan kembali China dengan pulau Taiwan.

Bahkan perang itu bisa 10 kali lipat lebih besar daripada perang yang lain.

Baca juga: Rusia diembargo Beberapa Negara, Apa itu Embargo? Begini Penjelasannya

Ada beberapa alasan China bisa berkata seperti itu.

Pertama, dilansir dari express.co.uk pada Sabtu (20/11/2021), sekarang militer China berada pada atau mendekati kemampuan untuk menyerang Taiwan.

Laporan mengkonfirmasi bahwa Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) telah mencapai kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan blokade udara dan laut, serangan siber, dan serangan rudal terhadap Taiwan.

Laporan mereka menemukan kapasitas laut dan udara PLA saat ini dapat meluncurkan kekuatan pendaratan awal sekitar 25.000 tentara.

Jumlah itu bisa membuat pasukan militer konvensional AS tidak bisa menghalangi serangan China kepada Taiwan.

Ini membuktikan bahwa China bersungguh-sungguh ingin menjalankan “Kebijakan Satu China".

Kirim berita, video & pengaduan terkait layanan publik di sini


Jangan Lewatkan:

TERPOPULER HARI INI

KOLEKSI VIDEO POPULER

PT. JALUR INFO NUSANTARA

Jalur Informasi Independen & Terpercaya

Copyright 2020