Catatan Satu Tahun Pandemi Covid-19 di Indonesia

Nasional | 2021-03-01

© Disediakan oleh Jalurinfo.com
JAKARTA, JALURINFO.COM - Tepat setahun pagebluk Covid-19 di Indonesia, jumlah kasus harian masih dinamis. Semakin banyak orang yang dites, maka kasus baru pun bermunculan. Namun, kunci memutus mata rantai dengan penelusuran dan tes usap dinilai belum maksimal.

"Dokter! Ibu saya perutnya nggak gerak!"Adit (35) berteriak histeris saat tahu ibunya yang terbaring di kasur kamar sebuah rumah sakit rujukan covid-19 daerah Tangerang Selatan dengan selang oksigen tiba-tiba terdiam.

Adit, yang saat itu juga masih mendapat perawatan dengan jarum infus menempel di tangan kanannya, tergolek lemas. Ibunya sudah dua hari menunggu di Unit Gawat Darurat (UGD) untuk tindakan medis selanjutnya.

Sehari sebelumnya, pada 11 Januari 2021, sang ibu melakukan tes usap Polymerase Chain Reaction (PCR) setelah mengalami sesak nafas, mual, dan pusing. Namun, hasil tes belum keluar dan sang ibu sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

Pihak rumah sakit tidak mengharuskan agar ibunya dimakamkan dengan prosedur Covid-19. Alhasil, Adit memutuskan membawa pulang jenazah dan dimakamkan dengan prosedur pemakaman biasa.

Sedikitnya 40 orang hadir melayat pada 12 Januari 2021 lalu. Di antara mereka termasuk tetangga di sekitar rumah, keluarga, kerabat, serta tiga petugas yang memandikan, mendoakan, dan mengantarkan jenazah.

Setelah pemakaman usai, surat hasil uji PCR keluar: sang ibu terkonfirmasi positif Covid-19.

Adit segera melapor ke RT. Selanjutnya, Puskesmas menghubunginya untuk uji PCR keluarga.

Hasil pun keluar, lima orang dinyatakan positif: Adit bersama kakak, bapak, serta dua saudara iparnya. Sementara, ketiga petugas ambulans dinyatakan negatif.

"Selain keluarga dan petugas ambulans, pihak Puskesmas tidak men-swab siapa yang melayat. Swab PCR dilakukan kalau ada yang bergejala," ujar Adit ketika dihubungi pada Jumat (26/02).

Puskesmas tidak menguji usap puluhan orang yang melayat karena tidak menunjukkan gejala. Beberapa yang melayat kemudian melakukan tes usap Antigen dengan dana pribadi.

Menurut standar World Health Organization, setidaknya 30 orang di sekeliling pasien terkonfirmasi positif harus dites.

Tes pun juga termasuk pada orang tidak bergejala. Bisa jadi, mereka termasuk kategori orang asimtomatik atau tanpa gejala. Ada pula orang presimtomatik, atau orang yang sudah terinfeksi tapi belum menunjukkan gejala.

Minimnya penelusuran kontak erat juga dirasakan Alex (31) (bukan nama sebenarnya), warga Rawalumbu, Bekasi. Ia dan istrinya sempat dinyatakan positif Covid-19 awal Februari 2021. Sesaat, ia segera melapor ke RT dan berobat ke rumah sakit swasta rujukan Covid-19 di Jawa Barat.

"Rumah sakit seharusnya memberikan panduan, harus menghubungi siapa dan kenapa," ujar Alex ketika dihubungi pada Minggu (28/02). Menurut prosedur, RT melaporkan dan berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas untuk penelusuran kontak erat.

"Tidak ada tracing dari Puskesmas. Saya melakukan tracing mandiri dan menghubungi orang-orang yang berinteraksi dengan saya dalam beberapa hari sebelumnya."

Ia pun segera mengetes kontak eratnya dan sang istri, yakni 10 orang anggota keluarga. "Saya tes Antigen untuk keluarga dan mereka negatif," katanya.

Pakar Matematika Epidemiologi ITB Nuning Nurani menilai pemerintah Indonesia masih minim melakukan testing (pengujian) dan tracing (penelusuran).

"Sejak awal pandemi, memang testing masih kurang. Pelunasan tracing dan testing 20 hingga 30 orang di sekeliling orang terkonfirmasi positif tidak terpenuhi, (rata-rata) hanya lima orang. Jadi melesetnya besar," ujar Nuning ketika diwawancara pada Jumat (26/02) lalu.

"Artinya, malah memperburuk transmisi (virus) dengan situasi yang demikian."

Potensi penyebaran tinggi

Minimnya tes dan penelusuran menjadi salah satu faktor angka kasus Covid-19 masih tinggi di Indonesia. Merujuk analisis yang dilakukan BBC East Asia Visual Journalism yang diolah dari data Kementerian Kesehatan, nilai korelasi antara kasus baru harian dengan jumlah uji PCR tiap harinya berada di angka 0,89.

Artinya, semakin banyak yang dites maka cenderung bermunculan kasus baru yang lebih banyak. Begitu juga sebaliknya.

Baca juga: Penundaan Pemilu 2024 Disebut Berpotensi Lahirkan Pemimpin Otoriter

Nuning membaca hasil temuan ini dan menjelaskan, "potensi penyebaran Covid-19 di Indonesia masih tinggi."

Pandemi belum bisa dikatakan berakhir di Indonesia dalam waktu dekat. Dari sisi epidemiologi, menurutnya, Indonesia sudah masuk ke "stadium 4".

"Kalau tidak disiplin (protokol kesehatan) itu sudah tidak bisa tracing dan tidak tahu kena dari mana. Itu pertanyaan yang sulit dijawab," ujar Nuning.

Indonesia bisa dianggap aman dan kasus mulai mereda apabila jumlah tes makin tinggi, yakni sebanyak 1% hingga 2% dari total populasi, disertai rasio orang yang positif semakin rendah.

Hingga 27 Februari 2021, rasio orang terkonfirmasi positif dibandingkan jumlah uji atau biasa disebut dengan positivity rate di Indonesia masih di angka 18,5% dari total 7,1 juta orang yang diperiksa.

Dibandingkan dengan enam negara lainnya di Asia Tenggara dan Asia Timur, Indonesia masih menempati urutan pertama.

Rasio orang terkonfirmasi positif paling rendah yakni di Singapura, senilai 0,82%. Per 27 Februari 2021, negeri Singa ini sudah menguji PCR sebanyak 7.290.760 kali dengan jumlah kasus positif 59.925. Grafik kasus harian baru pun cenderung stagnan.

Di Malaysia, angka rasio menunjukkan hampir empat kali lebih rendah dari angka di Indonesia, sementara di Korea Selatan, 18 kali lebih rendah.

Korea Selatan adalah negara yang menjadi `kiblat` tes usap lantaran mengambil gebrakan dengan menguji massal orang-orang kontak erat maupun non kontak erat pada awal pandemi.

Studi oleh Brigham and Women`s Hospital dan Fakultas Kesehatan Universitas Boston, Amerika Serikat, menyebutkan Korea Selatan berhasil merespons dengan cepat untuk melakukan tes usap bekerja sama dengan sektor privat. Setidaknya 600 laboratorim uji dibangun dengan kapasitas tes mencapai 15.000 hingga 20.000 tes saban harinya.

Selain itu, studi gabungan dari The George Washington University, National Research Foundation of Korea, dan Utah University menyebutkan kebijakan Korea Selatan dibuat dari pengalaman mereka menghadapi pandemi MERS pada 2015 lalu.

Hingga kini, Korea Selatan telah menguji 6.649.006 orang dan mendapati 89.676 kasus positif.

Kurva masih dinamis

Dengan tes usap yang belum maksimal, bagaimana kurva Covid-19 Indonesia selama setahun dibandingkan dengan negara lainnya?

BBC East Asia Visual Journalism menghitung jumlah kasus baru per harinya dan rata-rata kasus selama tujuh hari menggunakan exponential moving average dari data Kementerian Kesehatan untuk melihat tren penambahan jumlah kasus; apakah sudah stagnan atau justru masih dinamis.

Grafik di bawah menunjukkan kurva Indonesia masih dinamis. Dari lima orang yang dites, akan ditemukan satu kasus positif.

Negara dengan kurva serupa Indonesia yakni Malaysia. Di Malaysia, setiap 17 Tes usap PCR, ditemukan satu kasus positif.

Catatan Satu Tahun Pandemi Covid-19 di Indonesia



BERITA TERKAIT

Fadli Zon: Di Negeri Paling Kapitalis, PCR dan Antigen Ternyata Semuanya GRATIS
Usai Dipanggil Jokowi, Menaker Jamin Segera Revisi Aturan JHT
Terungkap Penyebab Langkanya Minyak Goreng, Ternyata Ini Biang Keroknya
Bikin Geleng-Geleng Kepala , Ini Aturan Baru Perpanjang dan Bikin SIM
Mulai 1 Maret 2022, BPJS Jadi Syarat Jual Beli Tanah
JHT Cair di Usia 56 Tahun, Angota DPR Minta Evaluasi
Triliunan Tagihan Covid dari Rumah Sakit Tak Dibayar, Ini Alasan Pemerintah
Mahfud MD Sebut Tindakan Polisi di Desa Wadas Sudah Sesuai Prosedur
Hari Pers Nasional, Presiden Dorong Industri Pers Bertransformasi Cepat
Jenderal Dudung Minta Bahar Smith dan Rizieq Tak Usah Macam-macam

TERPOPULER

  1. VIDEO Canggih, Misil Anti Pesawat Rusia Berbelok-belok Mengikuti Target dan Dorrr!

  2. VIDEO Bak Kembang Api, Begini Sistem Kerja Roket Ganda Uragan Rusia

  3. VIDEO Negara-negara Arab Deklarasikan Dukungan untuk Rusia

  4. VIDEO Beginilah Nasib Tentara Ukraina yang Ditangkap Rusia

  5. VIDEO Tank Rusia Sembunyi Dibalik Semak, Lalu Hancurkan Tank dan Benteng Ukraina

  6. VIDEO Ukraina Semakin Terancam, Tentara Bayaran Georgia Tiba di Donbas

  7. VIDEO Kondisi Rumah sakit Manakarra Mamuju saat Gempa siang hari ini

  8. VIDEO Detik-detik Peluncuran rudal TOS-1 di posisi dekat Avdiivka oleh Tentara Rusia

  9. Kondisi Polda Sulbar setelah Dilanda Gempa Bermagnitudo: 5.8

  10. VIDEO Pemkab Solo Luncurkan Program Solo Mengaji

RELIGI

VIDEO Pemkab Solo Luncurkan Program Solo Mengaji

Menag Terbitkan Aturan Pengeras Suara, Ini Respons MUI

Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Saleh Ajak Masyarakat Ramaikan Pengajian

Menag Pastikan Tidak Ada Pemberhentian Umrah

Cendekiawan Muslim Sebut Pentingnya Bimbingan Keagamaan Bagi Generasi Muda Hadapi Bahaya Media Sosial

EKONOMI

  1. Tahu-Tempe Langka, Ini Penjelasan Menteri pertanian

  2. Cek Harga Emas dan UBS Hari Ini di Pegadaian, Senin, 14 Februari 2022

  3. Bappenas Heran Tukang Las Rel Kereta Cepat Didatangkan dari China

  4. Penghasil Sawit Terbesar tapi Minyak Goreng Langkah, KPPU Bakal Interogasi Pengusaha Minyak Goreng

  5. Minyak Goreng Langkah, Rizal Ramli Semprot Airlangga Hartarto

  6. Anggota DPR Kaget Anggaran Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bengkak Jadi Rp 113,9 T

  7. Target KUR BRI Enrekang 429 Milyar Dominan Buat Petani Bawang

  8. IMB Tak Lagi Berlaku, Begini Syarat Mengurus Persetujuan Izin Bangunan Gedung

  9. VIDEO: Didukung 537 Personil, Ini Partisipasi Yodya Karya Wilayah Makassar dalam Membangun Negeri

  10. Produk China Tak Tergantikan, Amerika Pun Tak Berdaya Membendungnya

  11. Ini Daftar Komoditas Ekspor Unggulan Indonesia Sawit hingga Batu Bara

  12. Diprediksi Naik 8 Kali Lipat, Begini Nilai Ekonomi Digital Indonesia di Tahun 2030

Catatan Satu Tahun Pandemi Covid-19 di Indonesia

Nasional | 2021-03-01

© Disediakan oleh Jalurinfo.com
Choose Language!

Kirim berita, video & pengaduan terkait layanan publik di sini

JAKARTA, JALURINFO.COM - Tepat setahun pagebluk Covid-19 di Indonesia, jumlah kasus harian masih dinamis. Semakin banyak orang yang dites, maka kasus baru pun bermunculan. Namun, kunci memutus mata rantai dengan penelusuran dan tes usap dinilai belum maksimal.

"Dokter! Ibu saya perutnya nggak gerak!"Adit (35) berteriak histeris saat tahu ibunya yang terbaring di kasur kamar sebuah rumah sakit rujukan covid-19 daerah Tangerang Selatan dengan selang oksigen tiba-tiba terdiam.

Adit, yang saat itu juga masih mendapat perawatan dengan jarum infus menempel di tangan kanannya, tergolek lemas. Ibunya sudah dua hari menunggu di Unit Gawat Darurat (UGD) untuk tindakan medis selanjutnya.

Sehari sebelumnya, pada 11 Januari 2021, sang ibu melakukan tes usap Polymerase Chain Reaction (PCR) setelah mengalami sesak nafas, mual, dan pusing. Namun, hasil tes belum keluar dan sang ibu sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

Pihak rumah sakit tidak mengharuskan agar ibunya dimakamkan dengan prosedur Covid-19. Alhasil, Adit memutuskan membawa pulang jenazah dan dimakamkan dengan prosedur pemakaman biasa.

Sedikitnya 40 orang hadir melayat pada 12 Januari 2021 lalu. Di antara mereka termasuk tetangga di sekitar rumah, keluarga, kerabat, serta tiga petugas yang memandikan, mendoakan, dan mengantarkan jenazah.

Setelah pemakaman usai, surat hasil uji PCR keluar: sang ibu terkonfirmasi positif Covid-19.

Adit segera melapor ke RT. Selanjutnya, Puskesmas menghubunginya untuk uji PCR keluarga.

Hasil pun keluar, lima orang dinyatakan positif: Adit bersama kakak, bapak, serta dua saudara iparnya. Sementara, ketiga petugas ambulans dinyatakan negatif.

"Selain keluarga dan petugas ambulans, pihak Puskesmas tidak men-swab siapa yang melayat. Swab PCR dilakukan kalau ada yang bergejala," ujar Adit ketika dihubungi pada Jumat (26/02).

Puskesmas tidak menguji usap puluhan orang yang melayat karena tidak menunjukkan gejala. Beberapa yang melayat kemudian melakukan tes usap Antigen dengan dana pribadi.

Menurut standar World Health Organization, setidaknya 30 orang di sekeliling pasien terkonfirmasi positif harus dites.

Tes pun juga termasuk pada orang tidak bergejala. Bisa jadi, mereka termasuk kategori orang asimtomatik atau tanpa gejala. Ada pula orang presimtomatik, atau orang yang sudah terinfeksi tapi belum menunjukkan gejala.

Minimnya penelusuran kontak erat juga dirasakan Alex (31) (bukan nama sebenarnya), warga Rawalumbu, Bekasi. Ia dan istrinya sempat dinyatakan positif Covid-19 awal Februari 2021. Sesaat, ia segera melapor ke RT dan berobat ke rumah sakit swasta rujukan Covid-19 di Jawa Barat.

"Rumah sakit seharusnya memberikan panduan, harus menghubungi siapa dan kenapa," ujar Alex ketika dihubungi pada Minggu (28/02). Menurut prosedur, RT melaporkan dan berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas untuk penelusuran kontak erat.

"Tidak ada tracing dari Puskesmas. Saya melakukan tracing mandiri dan menghubungi orang-orang yang berinteraksi dengan saya dalam beberapa hari sebelumnya."

Ia pun segera mengetes kontak eratnya dan sang istri, yakni 10 orang anggota keluarga. "Saya tes Antigen untuk keluarga dan mereka negatif," katanya.

Pakar Matematika Epidemiologi ITB Nuning Nurani menilai pemerintah Indonesia masih minim melakukan testing (pengujian) dan tracing (penelusuran).

"Sejak awal pandemi, memang testing masih kurang. Pelunasan tracing dan testing 20 hingga 30 orang di sekeliling orang terkonfirmasi positif tidak terpenuhi, (rata-rata) hanya lima orang. Jadi melesetnya besar," ujar Nuning ketika diwawancara pada Jumat (26/02) lalu.

"Artinya, malah memperburuk transmisi (virus) dengan situasi yang demikian."

Potensi penyebaran tinggi

Minimnya tes dan penelusuran menjadi salah satu faktor angka kasus Covid-19 masih tinggi di Indonesia. Merujuk analisis yang dilakukan BBC East Asia Visual Journalism yang diolah dari data Kementerian Kesehatan, nilai korelasi antara kasus baru harian dengan jumlah uji PCR tiap harinya berada di angka 0,89.

Artinya, semakin banyak yang dites maka cenderung bermunculan kasus baru yang lebih banyak. Begitu juga sebaliknya.

Baca juga: Penundaan Pemilu 2024 Disebut Berpotensi Lahirkan Pemimpin Otoriter

Nuning membaca hasil temuan ini dan menjelaskan, "potensi penyebaran Covid-19 di Indonesia masih tinggi."

Pandemi belum bisa dikatakan berakhir di Indonesia dalam waktu dekat. Dari sisi epidemiologi, menurutnya, Indonesia sudah masuk ke "stadium 4".

"Kalau tidak disiplin (protokol kesehatan) itu sudah tidak bisa tracing dan tidak tahu kena dari mana. Itu pertanyaan yang sulit dijawab," ujar Nuning.

Indonesia bisa dianggap aman dan kasus mulai mereda apabila jumlah tes makin tinggi, yakni sebanyak 1% hingga 2% dari total populasi, disertai rasio orang yang positif semakin rendah.

Hingga 27 Februari 2021, rasio orang terkonfirmasi positif dibandingkan jumlah uji atau biasa disebut dengan positivity rate di Indonesia masih di angka 18,5% dari total 7,1 juta orang yang diperiksa.

Dibandingkan dengan enam negara lainnya di Asia Tenggara dan Asia Timur, Indonesia masih menempati urutan pertama.

Rasio orang terkonfirmasi positif paling rendah yakni di Singapura, senilai 0,82%. Per 27 Februari 2021, negeri Singa ini sudah menguji PCR sebanyak 7.290.760 kali dengan jumlah kasus positif 59.925. Grafik kasus harian baru pun cenderung stagnan.

Di Malaysia, angka rasio menunjukkan hampir empat kali lebih rendah dari angka di Indonesia, sementara di Korea Selatan, 18 kali lebih rendah.

Korea Selatan adalah negara yang menjadi `kiblat` tes usap lantaran mengambil gebrakan dengan menguji massal orang-orang kontak erat maupun non kontak erat pada awal pandemi.

Studi oleh Brigham and Women`s Hospital dan Fakultas Kesehatan Universitas Boston, Amerika Serikat, menyebutkan Korea Selatan berhasil merespons dengan cepat untuk melakukan tes usap bekerja sama dengan sektor privat. Setidaknya 600 laboratorim uji dibangun dengan kapasitas tes mencapai 15.000 hingga 20.000 tes saban harinya.

Selain itu, studi gabungan dari The George Washington University, National Research Foundation of Korea, dan Utah University menyebutkan kebijakan Korea Selatan dibuat dari pengalaman mereka menghadapi pandemi MERS pada 2015 lalu.

Hingga kini, Korea Selatan telah menguji 6.649.006 orang dan mendapati 89.676 kasus positif.

Kurva masih dinamis

Dengan tes usap yang belum maksimal, bagaimana kurva Covid-19 Indonesia selama setahun dibandingkan dengan negara lainnya?

BBC East Asia Visual Journalism menghitung jumlah kasus baru per harinya dan rata-rata kasus selama tujuh hari menggunakan exponential moving average dari data Kementerian Kesehatan untuk melihat tren penambahan jumlah kasus; apakah sudah stagnan atau justru masih dinamis.

Grafik di bawah menunjukkan kurva Indonesia masih dinamis. Dari lima orang yang dites, akan ditemukan satu kasus positif.

Negara dengan kurva serupa Indonesia yakni Malaysia. Di Malaysia, setiap 17 Tes usap PCR, ditemukan satu kasus positif.

Kirim berita, video & pengaduan terkait layanan publik di sini


Catatan Satu Tahun Pandemi Covid-19 di Indonesia

Jangan Lewatkan:

TERPOPULER HARI INI

KOLEKSI VIDEO POPULER

PT. JALUR INFO NUSANTARA

Jalur Informasi Independen & Terpercaya

Copyright 2020